IM_POSSIBLE


Betul. Saya setuju dengan semua orang yang ingin percaya atau sungguh-sungguh percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin dicapai, tapi seperti halnya kunci untuk membuka sebuah brankas, ada kombinasi unik terdiri dari: brankas; anak kunci; dan kode.

Walaupun kita memiliki anak kunci dan kodenya, kita masih harus berusaha menemukan di mana brankasnya. Kerja keras, kerja smart, persisten, konsisten, keyakinan hingga ngotot, dan doa digabungkan semuanya pun kadang-kadang masih kurang. Ada yang disebut nasib. Seperti pernah saya baca bertahun-tahun silam dari buku yang ditulis Andrew Carnegie "Nasih hanya 10 persen, tapi ia adalah rel yang perlu disesuaikan terus kalau tidak ingin kereta kita terlempar".

Lalu...

Apakah kita tidak perlu bekerja keras? Atau bekerja smart?

Jawaban dari pengalaman hidup saya: sebenarnya tidak ada yang namanya bekerja keras sepanjang kita tahu bagaimana melakukan pekerjaan dengan baik dan menikmatinya. Sedangkan bekerja smart atau bekerja cerdas adalah bekerja dengan cara-cara yang tepat, hemat, waktu, hemat tenaga dan terencana.

Persisten?
Nah, ini yang seringkali disalahartikan dan karena itu akan kita bahas bagian paling akhir dari tulisan ini.

Konsisten?
Hm...sepertinya saya lebih suka menggunakan istilah tanggung jawab dibandingkan konsisten. Dalam setiap usaha saya mendaki tangga-tangga sukses, saya selalu bertanggung jawab menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Termasuk mencapai gol itu sendiri. Kalau sudah saya tetapkan niat, saya merasa bertanggung jawab mencapainya. Apakah saya konsisten atau tidak? Entahlah, karena kadang-kadang untuk mencapai tujuan lebih cepat saya perlu berganti jalur, apakah itu dapat disebut inconsistence? Saya pribadi pasti menolaknya.

Keyakinan? Kalau Anda yakin bisa pasti bisa?
Keyakinan memang unsur penting yang tidak mungkin dihilangkan. Keyakinan itu bagaikan garam dalam setiap masakan. Percuma Anda beri bumbu sebanyak apapun, tanpa garam tidak akan ada rasa. Tapi keyakinan lebih dari sekedar isu neurological; keyakinan tidak berguna kalau diletakkan saja, seperti halnya garam yang masih belum dicampurkan ke dalam masakan, hanyalah butiran-butiran putih tak sedap.

Berdoa?
Apa yang mendorong saya berdoa? Menghadapi kemisteriusan nasib, apalagi?! Saya sudah membuat rencana, saya sudah bekerja smart, saya sudah yakin pada diri sendiri dan yakin dapat mencapai tujuan-tujuan saya, tapi saya "takut" pada faktor X yang akan mengacaukan semuanya, dan di situ lah saya merasa membutuhkan invisible hand untuk menuntun saya.

Bagaimana Tuhan menjawab doa-doa saya?

Ini sungguh-sungguh menarik bila dilihat flash back melalui pertumbuhan kesadaran "awareness" kita sebagai manusia.
10-20 tahun; doa adalah bagian dari pelajaran agama di sekolah.

20-30 tahun; doa adalah meminta kehidupan yang baik, mudah, dan nyaman.

30-40 tahun; doa adalah gabungan 10 persen rasa syukur dan 90 persen keluhan kepada Tuhan.

40-50 tahun; doa adalah pernyataan 30 persen syukur dan 70 persen kepasrahan, umumnya dengan kalimat: "Tuhan, terima kasih atas segala berkat karuniaMu sepanjang hidupku (tak terbantahkan Engkau selalu ada ketika aku membutuhkanMu). Sekarang aku pasrahkan sisa hidupku, sebenarnya, aku mulai lelah, Tuhan. Harus kuakui tidak mudah menemukan brankas itu, kadang-kadang aku juga merasa bingung, aku sebenarnya tidak tahu apakah telah aku temukan brankas yang Engkau sediakan untukku di dunia ini atau aku harus berusaha terus mencarinya? Seperti apa sesungguhnya brankas itu? Apakah seperti keyakinanku di masa muda, penuh kelimpahan harta benda? Ataukah seperti kesadaranku kini; berisi nafas cinta dan karuniaMu saja?"
50-60 tahun: Ternyata semua itu mungkin (I'm possible). Tapi apa yang possible bagiku tidak harus possible bagi orang lain dan apa yang possible bagi orang lain tidak harus possible bagiku. Doa-doa semakin singkat, sebab keyakinan baru bahwa jarak antara diri ini dan Tuhan pun semakin dekat. Jawabn Tuhan datang sebelum ditanya dan doa dijawab sebelum dilantunkan. Apakah ini artinya telah saya temukan brankas dan telah terbuka dengan anak kunci dan kode rahasia milik saya? 

Jadi sepertinya sudah waktunya membantu orang lain memahami arti, makna dan praktek dari pada persisten itu.

PersintenPersisten adalah sebuah sikap yang perlu dimaknai secara hati-hati, sebab ia sangat dekat dengan "keras kepala" atau lebih parah lagi "dungu" seperti kerbau. Jika Anda beruntung seperti saya, tersadar sebelum terlambat Anda tidak menjadi remuk dalam usaha mencari brankas Anda.

Tapi kalau Anda masih bingung juga sebab terlanjur tertanam dalam keyakinan bahwa: persisten itu penting; jika gagal sekali, ulangi 2 kali, 3 kali, 4 kali, terus...100 kali, masa tidak sekalipun kena? Seratus kali tidak kena juga ulangi, masa 1000 kali mencoba tidak sekalipun kena?
Begini: walaupun Anda mengulang sejuta kali dengan cara yang keliru, Anda persisten, tapi Anda gagal belajar. Jika secara kebetulan mengena beberapa kali, itu dikarenakan faktor nasib dan kerja keras (bukan kerja smart). Hasil yang Anda peroleh tidak signifikan.

Seharusnya Anda terus berusaha namun terus-menerus memperbaiki cara atau perilaku Anda (behavior) dan meningkatkan capaian secara signifikan; mencoba 100 kali kena 90 kali dan mencoba 1000 kali kena 990 kali. Dengan demimikian apa yang Anda lakukan barulah dapat disebut sebagai kerja smart.

Untuk menggamblangkan deskripsi di atas, transkrip percakapan telepon berikut ini menyatakan "kedungunan" dari pada kumpulan belang persistennya  dengan baik.

Dia: Selamat pagi Ce (Kak), saya D yang kapan hari telepon cece (kakak) soal kesempatan bisnis investasi emas. Maaf saya kembali MENGGANGGU cece (catatan: beberapa hari yang lalu D memang menelepon dan waktu itu saya sudah menolaknya dengan alasan saya ibu rumah tangga biasa, nenek-nenek yang tidak bekerja. Karena tidak punya penghasilan tetap saya tidak memikirkan berinvestasi, jadi saya minta ia menghapus nama saya dari daftar targetnya).

Saya: Ya?

Dia: Saya minta waktu cece, 15 menit saja ya, ce, gak lama-lama kok.

Saya: Untuk?

Dia: Untuk bertemu di kantor cece, (kok masih kantor ya, kan sudah pernah saya jelaskan saya NRT (nenek-nenek rumah tangga). Boleh ya ce, kapan? (agak memelas).

Saya: Oh, sekarang saja. (Saya memutuskan untuk memberinya sebuah pelajaran berharga).

Dia: Sekarang?! Bisa?! Di mana? (saya agak kasihan mendengar nada persistennya).

Saya: Jalan Tomang Utara dua nomor....

Dia: Jalan ... ?
Saya: Jalan Tomang Utara dua nomor...

Dia: Alamat rumah ya ini?

Saya: Ya, alamat rumah, kan saya nenek-nenek yang nggak berkantor.

Dia: Ok. Jalan Tomang Utara dua tower apa?

Saya: Kompleks XYZ (saya membacakan alamat rumah dengan jelas.

Dia: Dekat mana ya?

Saya: Tahu Roxy Square?

Dia: Roxy Square ... Roxy Square ...

Saya: Ya, rumah saya letaknya di belakang Roxy Square.

Dia: Jakarta?! Cece di Jakarta ya?

Saya: Ya. Saya tinggal di Jakarta. Kan sudah saya kasih tahu kapan hari? Jadi, tolong nama saya didilit dari daftar prospek...

Dia: Oh, tidak apa-apa, saya akan telepon kembali, siapa tahu cece pas di Surabaya ....

Saya: Buat apa buang-buang waktu Anda dan waktu serta energi saya? Toh, saya tidak akan ikut ajakanmu?!

Dia: Oh, ndak apa-apa, Ce. Sudah menjadi tugas saya (persisten sekali, bukan? Dia mengucapkan kalimat tadi seolah-olah ia akan memberikan saya suatu pelayanan.)

Saya: Walaupun Anda telepon 1000 kali saya tetap tidak akan tertarik, daripada kamu buang tenaga dan waktu menelepon orang yang tidak bisa berinvestasi, lebih baik Anda menelepon orang lain saja (kepo kasih nasihat, mungkin sudah alamiahnya inspirator-motivator).

Dia: Tapi kan cece belum sempat mendengarkan penjelasan saya, mana tahu nanti tertarik

Suer...kagum dengan persistennya. Tapi saya putuskan saja sambil mengingatkan diri agar tetap stay cool.

Saya: Terima kasih dan jangan telepon-telepon saya lagi....

Dia: @#$% . (samar-samar masih terus berbicara).

Comments