Reframing NLP and the Transformation of Meaning


Reframing Neuro Linguistic Programing and the Transformation of Meaning (1982) merupakan buku keenam duet Richard Bandler – John Grinder. Seperti halnya Frog Into Princess juga merupakan kompilasi seminar tiga hari dengan judul yang sama dan diedit oleh Connirae dan Steve Andreas. Buku ini, seperti halnya buku-buku duo pencipta NLP lainnya perlu dibaca dengan penuh perhatian, tapi kita tidak perlu khawatir akan kesulitan memahaminya jika sudahpernah mempelajari buku-buku NLP lainnya, apalagi jika sudah pernah mengikuti pelatihan NLP practitioner yang bermutu. Bagi saya, membaca buku ini serasa duduk di dalam kelas dan terlibat secara langsung. Ruang dan waktu serasa kehilangan batas.

 

Content Reframing: Changing Meaning or Context

Kita dapat mengubah cara pandang sebagai upaya mengubah arti dari suatu kejadian. “…changing the frame in which a person perceives events in order to change the meaning. When the meaning changes, the person’s responses and behaviors also change.“  Pendapat ini sangat bermanfaat bila kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan wisdom yang selama berabad-abad telah digaungkan namun sulit diaplikasikan hingga Bandler dan Grinder “menyederhanakannya”. Peristiwa apapun yang telah terjadi, terjadi, tidak dapat lagi diubah, disesali pun tiada gunanya. Tapi ternyata kita dapat membingkai ulang dan dengan demikian dapat memberinya makna berbeda.

Ketika orang memaknai suatu peristiwa secara berbeda, maka reaksinya (responnya) juga berubah, demikian pula perilakunya. Jika seseorang tidak menyukai apa yang dipersepsi  inderawinya, sebenarnya yang mengganggunya adalah responsnya sendiri. Salah-satu upaya untuk mengubah respons adalah memahami bahwa, responsnya tidak berdasarkan pengalaman yang sedang berlangsung. Melainkan ia merespons menggunakan set pengalaman yang sudah ada dalam subconscious-nya. Presupposition yang mendukung reframing adalah: “Every experience in the world, and every behavior is appropriate, given some context, some frame.” Atau bila dialih ke bahasa Indonesia “Setiap pengalaman kita, setiap perilaku kita adalah pantas, bila dihubungkan dengan konteks, dan sudut pandang tertentu.

Kelebihan-kelebihan NLP adalah menerapkan “wisdom” seperti ini dalam perangkat aplikasi yang mudah dipelajari. Salah-satunya adalah Six Steps Reframing yang sudah dibahas tuntas dalam buku Frog into Princess. Cara praktis mengubah respons yang tidak dikehendakinya dapat dimulai dengan mengubah perilaku—sesuatu yang lebih “kasat pengamatan”.

Dengan mengidentifikasi perilaku atau bagian yang tidak disukai, misalnya: ketamakan dalam konteks pertemanan dan keluarga. Bila kita menempatkan perilaku yang sama pada konteks atau situasi berbeda, misalnya: ketamakan dalam situasi belajar, maka maknanya berubah.

Bagi yang sudah pernah belajar atau menguasai six-step reframing model, pertama-tama membangun komunikasi dengan suatu part (bagian), memahami niat/tujuan positifnya, dan menciptakan tiga perilaku alternatif yang dapat mengakomodir tujuan positif tadi. Menurut co-founders NLP—masa awal NLP utamanya, merupakan suatu model serba guna. Dengan kelengkapan seperti future-pacing dan ecological check, kemungkinan melakukan kesalahan atau kegagalan sangat kecil asalkan konsisten mengikuti prosedurnya.

            Selain six step reframing model terdapat beberapa model lainnya yang umumnya tercakup dalam terapi. Salah-satu model yang dibicarakan di sini disebut content reframing sebab berbeda dengan six-step reframing, untuk mengaplikasikannya orang perlu terlebih dahulu mengetahui kontennya secara spesifik. Content reframing sebenarnya merupakan cara mengubah sudut pandang terhadap stimulus di mana realitasnya tidak berubah, jadi hanya mengubah pemaknaannya saja.

Guna menjelaskan content reframing ini, Bandler/Grinder mengulang cerita tentang seorang perempuan yang pernah diterapi oleh Leslie-Cameron Bandler yang mengalami compulsive disorder tapi terbatas pada karpet ruang tamunya saja. Intinya Leslie memberikan 2 konten yang berbeda, yang pertama karpet yang bersih, bebas dari bekas injakan kaki sebagai kesendirian, kesepian, karena semua orang yang dikasihi tidak berada di rumah. Frame kedua karpet yang penuh dengan bekas injakan menandakan kehadiran orang-orang yang dikasihi ibu 3 orang anak tersebut diekstensi menjadi keceriaan, kehangatan keluarga dan kebahagiaan.

Bentuk content reframing juga disebut meaning reframing, sebab pendekatan yang digunakan bertujuan mengubah arti atau makna yang terkandung dalam suatu situasi.

 

Context Reframe

Context reframing mengubah generalisasi suatu keluhan dengan menempatkan situasi tersebut pada konteks yang berbeda. Misalnya seseorang berkata: “Aku terlalu malas.” Pendengar akan menangkap pola generalization yang ditandai kata “terlalu”. Dalam hal apa pembicara terlalu malas? Selalu ada kemungkinan bahwa “kemalasannya” mengandung positive intention dan bermanfaat pada kondisi tertentu, misalnya “Aku terlalu malas mencampuri urusan orang lain.”

Bila dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar orang mengeluhkan tentang suatu hal, tanyakan kepada diri kita: “Dalam konteks apa ya hal yang sedang dikeluhkan orang ini memiliki nilai?” Pikirkan konteks berbeda yang dapat mengubah evaluasi dari perilaku tersebut. Bila kita merasa malas membantu pengeluh itu, lebih baik kita jangan berkata: “Terimalah dengan iklas.” Atau, “Semuanya akan baik-baik saja (Everything will be ok”). Sebab itu hanya hiburan kosong yang malah menambah tekanan bagi yang sedang bermasalah. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu saya membaca status teman yang bunyinya kurang lebih: “Kecewa, sakit, dan tua tak terhindarkan dalam hidup ini, iklaskan saja”. Saya tidak setuju bahwa pernyataan seperti ini bermanfaat sebagai nasihat menjalani hidup. Kecewa adalah perasaan yang merupakan produk cara orang merespon realitas yang tidak diharapkan. Misalnya, orang tersebut mengharapkan anak-anaknya berbakti, namun kenyataannya anak-anaknya tidak memedulikan dirinya, maka ia merasa kecewa. Tapi seandainya dibingkai ulang kenyataan tersebut, mungkin ia akan merasa bahagia karena walaupun sudah tua ia masih mandiri dan tidak membutuhkan perhatian anak-anaknya, dengan begitu, anak-anaknya dapat mencurahkan perhatian kepada keluarganya masing-masing.

Sedangkan untuk meaning reframe, tanyakan diri kita: “Apakah ada frame lain yang lebih luas atau berbeda di mana perilaku ini memiliki nilai positif? Apa lagi makna perilaku ini? Bagaimana saya dapat mendeskripsikannya dalam situasi yang sama?

Bandler/Grinder menggunakan contoh-contoh yang tidak biasa guna menjelaskan context reframe, misalnya salah-satu dari mereka mengatakan: “Tentunya tidak bermanfaat Anda berdiri di dalam gereja sambil berteriak “God dammit!” Nah, saya ingin Anda mengubah latar belakang gereja, altarnya, segala atribut yang ada, bangku-bangku, dan sebagainya menjadi latar belakang lain yang di mana ketika Anda berdiri sambil berteriak “God dammit” menjadi perilaku yang pantas. Dan orang-orang lain yang ada di sekitarnya pun berpikir bahwa perilaku Anda pantas.”

Dalam seminar yang kemudian “dibukukan” ini, kedua pencipta NLP juga mengajarkan bagaimana mengubah, atau mendamaikan bagian-bagian dengan mengubah arti (meaning reframe) atau context reframe. Sepanjang seminar seperti yang direkam oleh Steve Andreas ini, Bandler atau Grinder membicarakan banyak topik seperti fenomena satu teknik yang manjur mengatasi segala macam problem.

Dalam tulisan ini saya tidak merasa etis memasukkan langkah-langkah latihan praktisnya, sebaiknya Anda membaca buku ini bila tertarik mempelajari reframing lebih lanjut. Menurut saya pribadi reframing merupakan cara mengubah paradigma yang sangat praktis.

Comments