Pangeran dan Penyihir

Penyihir 

Dahula kala, di suatu negeri ada seorang pangeran ganteng yang percaya segala sesuatu kecuali tiga hal. Yang pertama ia tidak percaya adanya pulau-pulau lain selain pulau di mana kerajaannya berdiri. Ia tak percaya adanya puteri-puteri dan ia tidak percaya Tuhan. Baginda Raja, ayahnya selalu mengatakan bahwa ketiga hal tersebut tak pernah eksis, dan ia sangat mempercayai ayahnya. Namun suatu hari, sang pangeran keluar dari halaman istananya, dan tanpa terasa tibalah dia di pantai. Dengan mata membeliak tidak percaya ia melihat pulau…gugusan pulau-pulau, dan makluk cantik yang ia takut menyebut namanya.
                Dengan perasaan bingung bercampur takut sang pangeran berlari menuju laut, dan di sana ia melihat seorang pria berpakaian jubah putih. Rambutnya panjang menyentuh bahu, warnanya putih bagaikan perak. Sepasang alis dan jenggotnya yang panjang juga putih keperak-perakan.
                “Apakah pulau-pulau itu nyata?” Tanya sang pangeran sambil menunjuk gugusan kepulauan di seberang lautan.
                “Betul, itu pulau-pulau dan bahkan benua yang sangat luas.” Jawab pria tua itu.
                “Dan makhluk-makhluk itu…?” Sang pangeran menunjuk gerombolan perempuan-perempuan cantik yang sedang bermain-main di pantai. Suara tawa mereka terbawa angin, terdengar menarik sekaligus mengerikan baginya, “apakah mereka memang eksis?”
                “Oh ya. Mereka itu asli dan nyata. Kau dapat menyentuhnya jika ingin lebih pasti lagi.” Jawab lelaki tua berjubah putih.
                “Kalau begitu, berarti Tuhan itu juga eksis?”
                Lelaki tua itu tersenyum sambil menggulung lengan jubahnya yang lebar dan panjang. “Akulah Tuhan.” Katanya sambil sedikit membungkukkan badan. Mendengar itu, sang pangeran segera berlari pulang ke istananya.
                “Ah, kau sudah pulang rupanya, Puteraku?!” Sambut ayahnya. Tetapi pemuda itu menghentikan basa-basi itu.
                “Aku sudah melihat pulau-pulau, aku juga sudah melihat puteri-puteri, aku juga bertemu Tuhan.” Katanya dengan tanpa berhenti untuk menghirup nafas.
                Sang raja bergeming.
                “Tidak ada pulau-pulau, puteri-puteri dan Tuhan. Tak pernah ada!”
                “Aku yakin telah melihat semua itu!”
                “Katakan padaku bagaimana Tuhan berpakaian?”
                “Ia mengenakan jubah putih.”
                “Sepasang lengan jubahnya tergulung, bukan?”
                Sang pangeran teringat bahwa memang demikian adanya.
                “Nah, itu merupakan kebiasaan para penyihir. Kau telah disihirnya untuk melihat semua hal yang sebenarnya tak pernah eksis itu.”
                Mendengar itu tanpa mengucapakan sepatah kata pun sang pangeran bergegas kembali ke tepi pantai di mana ia bertemu penyihir yang mengaku Tuhan itu.
             Lelaki itu tersenyum simpul, seakan sudah tahu ia akan kembali.
            “Kata ayahku kau seorang penyihir. Kau menyihirku, membuat aku melihat segala hal yang aku yakini tak pernah eksis!”
“Ayahmu itulah yang telah menyihirmu, membohongimu dan mengatakan kalau pulau-pulau, puteri cantik dan Tuhan itu tidak pernah eksis. Di wilayah kekuasaan ayahmu, sang raja, terdapat banyak pulau, puteri-puteri cantik, semua itu sesungguhnya ada, tapi karena kau di bawah pengaruh sihir, kau tak dapat melihatnya. “
Dengan pikiran kacau, pangeran itu pulang mendapatkan ayahnya. Ketika berhadapan ia menatap tajam ke dalam mata ayahnya.
“Ayah, katakan sejujurnya, kalau ayah hanya seorang penyihir dan bukan raja yang sesungguhnya?”
Raja tersenyum sambil menggulung lengan jubahnya.
“Betul sekali anakku, aku hanya seorang penyihir.”
“Kalau begitu lelaki di pantai itu Tuhan?”
“Lelaki di pantai itu penyihir juga.”
“Aku harus tahu yang sebenarnya, kebenaran di balik sihir.”
“Tidak ada kebenaran di balik sihir.” Kata sang raja.
Pangeran menjadi nelangsa. Katanya, “Aku akan bunuh diri saja.” Tetapi keindahan pulau-pulau, kecantikan puteri-puteri berkelebat dalam bayangannya. Suara tawa mereka yang merdu membelai kupingnya. Ia mengangkat sepasang bahunya.
“Baiklah, tidak apa-apa, aku dapat menghadapi semua ini.” Katanya.
“Nah, puteriku!” Seru sang raja, “sekarang kau juga telah menjadi seorang penyihir.”

Disadur dari The Structure of Magic Volume I, oleh Richard Bandler dan John Grinder.

We are what we believed;  pernah mendengar kata-kata ini bukan? Kita adalah apa yang kita percayau atau yakini. Sukurlah, bila yang kita yakini itu benar dan mendukung kita untuk maju, berkembang dan sukses. Bila sebaliknya, itulah yang kita sebut limiting beliefs yang menghambat kemajuan kita.
Menurut Robert Dilts dari NLPU, keyakinan memiliki siklus seperti musim di atas bumi.  Dimulai suatu saat ketika kita mulai membuka diri dan mau untuk meyakini sesuatu, bagaikan datangnya musim semi, bibit yang disemai mulai tumbuh, tunas-tunas baru bermunculan, dan pucuk-pucuk daun baru mulai tumbuh. Pada tahap ini, kita terbuka dan siap untuk menerima keyakinan baru.  Namun setiap orang memiliki keyakinan yang telah dipegangnya selama ini. Seperti cerita di atas, sang pangeran terbuka untuk meyakini bahwa pulau-pulau lain itu ada, puteri-puteri itu ada, tapi pada saat yang sama ia juga memiliki keyakinan yang telah ditanamkan ayahnya. Seperti memasuki musim panen, ia tak dapat lagi mengubah apapun yang telah tertanam.
Ketika bertemu dengan penyihir lain di pantai, pangeran terbuka untuk meragukan bahwa apa yang diyakininya selama ini—seperti yang ditanamkan ayahnya—ternyata berbeda. Semua itu sangat membingungkan, namun pengalaman baru menjadi faktor pembanding dan ia memutuskan untuk meragukan apa yang pernah diyakini. Dan akhirnya ia memutuskan untuk memegang keyakinan baru bahwa baik orang yang di pantai, ayahnya dan dirinya sendiri adalah penyihir. Tidak ada kebenaran di balik sihir. Ia tahu ia dapat menerima dan menjalani hidupnya. 

Comments