Siapa Memerlukan Perubahan?

Entah sejak kapan, di Indonesia, para maha guru, motivator, inspirator ramai-ramai mengusung suatu tema yang sangat seksi “Change” atau perubahan. Seorang sahabat baik saya setiap saat setia menganjurkan: It’s time to change! Bagaimana Anda menyikapi change ini?
Saya pribadi menyetujui kalau perubahan itu penting, namun saya ingin menyikapi perubahan dengan hati-hati. Dengan kenaifan yang masih saya jaga sebaik-baiknya, saya bertanya kepada diri saya sendiri: Bukankah perubahan menyebabkan inkonsistensi? Lalu apa maksud para guru mengatakan: Perubahan itu harus! Sun-tzu, jenderal dari negeri Wu yang hidup sekitar 2.500 tahun yang lalu pernah mendapatkan pelajaran yang berharga dari paman raja, Ji Jia. Menurut bijaksana tersebut, perubahan merupakan bagian dari kehidupan, siang berubah menjadi malam dan sebaliknya terjadi berulang-ulang setiap 12 jam. Musim berubah setiap tiga bulan dan di daerah tropis berubah juga meskipun tidak seekstrem di daerah empat musim. Perubahan menciptakan problem sekaligus peluang. Jadi sebenarnya manusia tak perlu berubah, hanya menyesuaikan diri dengan perubahan sebaik-baiknya.
Merenung sampai di situ saya teringat akan bed time story yang pernah dibacakan oleh orang tua saya. Menurut legenda, pada masa negara-negara berperang di Tiongkok ada seorang pria bernama: Jiang Taigong (Khiong Taikung dalam dialek lainnya). Jiang Taigong sebenarnya seorang pemuda yang cerdas dan berbakat, sayangnya keluarganya tidak mampu membiayainya untuk mengikuti ujian negara di kota raja, sehingga ia terpaksa bertani untuk mencari nafkah. Agaknya ia tidak mencapai kesuksesan di bidang tersebut, padi maupun tanaman lain yang diusahakannya dengan kerja keras dan dedikasi tinggi berkali-kali puso karena diserang berbagai macam hama tanaman. Jiang Taigong pernah memancing ikan di sungai dan selama tiga hari tiga malam tidak mendapatkan seekor ikan kecil sekalipun. Jiang Taigong pun berganti pekerjaan sebagai kuli angkut di kota. Tenaganya memang besar dan karena itu banyak orang yang menggunakan jasanya, sayangnya, upah sebagai buruh kasar tidak seberapa dan karena ia makannya banyak sekali, tidak ada sepeserpun sisa yang dapat dibawa pulang untuk keluarganya. Sekali lagi Jiang Taigong berganti pekerjaan, kali ini ia menjadi pedagang keliling. Tetapi tampaknya ia belum bernasib mujur juga, dagangannya berupa sayur-mayur dan ikan tidak laku dan bangkrutlah dia. Ia harus berubah, sekali ini ia memutuskan untuk menjajakan garam, pikirnya garam tidak akan membusuk seperti sayuran dan ikan bila tidak terjual dalam sehari, masih dapat dilanjutkan hari berikutnya. Dan seperti yang diperkirakannya, dua keranjang garam yang dijajakannya tidak terjual habis dalam waktu seminggu, namun ia tidak berputus-asa dan meneruskan usahanya.
Suatu siang yang panas-terik, Jiang Taigong merasa penat dan ia lalu beristirahat di bawah sebatang pohon rindang di pinggir jalan desa. Angin sepoi-sepoi membuatnya mengantuk dan tertidur. Ketika itulah, seekor burung terbang melintas di atas keranjang garamnya. Burung itu membawa seekor ulat hijau di paruhnya, dan ketika tepat berada di atas keranjang garam Jiang Taigong, ulat tersebut terlepas dari jepitan paruhnya dan jatuh di atas garam. Tak lama kemudian Jiang Taigong terbangun dan mulai memikul garamnya tanpa menyadari apa yang telah terjadi. Ia menjajakannya di sebuah pasar. Saat itu kebetulan ada seorang nyonya kaya hendak membeli garam. Tampaknya untuk pertama kalinya, Jiang Taigong akan bernasib mujur, seandainya saja, nyonya yang kaya itu tidak memergoki ulat di atas garam yang hendak dibelinya itu. Ia segera berteriak histeris dan berlari pergi sambil berteriak: Garamnya berulat! Garamnya berulat! Peristiwa itu kemudian menjadi terkenal dan menjadi pepatah: Sialnya Jiang Taigong bangkrut jualan sayar-mayur, barangkali ia telah kualat pada langit, jual garam saja berulat.
Namun setelah peristiwa itu, Jiang Taigong mengubah cara berpikirnya, ia tak sudi lagi bergelut melawan problemnya atau keadaan yang selalu sial. Ia mulai memikirkan apa yang diinginkannya. Ia benar-benar menginginkan kesuksesan. Dan suatu malam ia bermimpi menjadi penasihat militer raja.
Ia tak peduli manusia sekolong langit menertawakannya dan istrinya meninggalkannya, Jiang Taigong segera pergi ke kota raja untuk melamar jadi prajurit kerajaan. Dan mulailah nasibnya berubah, dengan cepat ia naik pangkat menjadi perwira kemudian panglima besar yang memimpin selaksa tentara memadamkan pemberontakan-pemberontakan. Setelah keadaan negeri menjadi aman, Jiang Taigong pulang ke kampung halaman dengan segala kemuliaannya.

Tip:
Pertama teliti present state (keadaan sekarang) yang sedang Anda hadapi. Anda tidak dapat berpindah dari keadaan sekarang kecuali Anda menginginkan keadaan lain yang jauh lebih baik.
Kedua set outcome state atau desired state (keadaan yang Anda inginkan) sejelas-jelasnya sehingga memenuhi well-formedness sebelum Anda memutuskan untuk berganti pekerjaan, profesi atau pasangan Anda. Suatu outcome dikatakan well-formedness bila memenuhi hal-hal berikut ini:

  •  Spesifik, jelas dan menggunakan pernyataan positif.
  •  Ekologi dan kongruen; artinya tidak bertentangan dengan outcome/goals yang lebih kecil, dan mempertimbangkan “harga” atau pengorbanannya.
  •  Hambatan apa yang perlu diatasi atau disingkirkan? Dan sumber daya apa yang perlu ditambah/didapatkan?
  •  Amat penting bagi Anda untuk mencapainya, men-transformasi kehidupan Anda dan orang-orang yang Anda kasihi.
  •  Terbukti secara sensory, artinya Anda dapat merasakan, melihat dan mendengar saat ini seakan-akan Anda telah mencapai apa yang Anda inginkan.

Comments