Everything Is Possible

Renungan akhir tahun 2010
Benarkah segala hal—segala sesuatu—yang kita inginkan untuk terjadi selalu terjadi? Betul! Tapi untuk membuat segala sesuatu menjadi mungkin—mencapai apa saja yang kita inginkan—diperlukan: keyakinan, kegigihan, gairah, inovasi dan tekat. Menginginkan sesuatu tanpa disertai keyakinan bahwa hal tersebut mungkin untuk diraih hanya keinginan yang akan segera buyar, pada suatu saat kita seperti terbangun dari mimpi indah. Menginginkan sesuatu tanpa kegigihan, hampir pasti tidak mungkin mencapainya. Menginginkan sesuatu tanpa gairah (passion), tak mungkin terus-menerus memelihara semangat untuk menyingkirkan berbagai halangan dan hambatan. Menginginkan sesuatu tanpa inovasi barangkali kita hanya mampu mengulang sukses kecil yang telah pernah kita capai sebelumnya dengan kualitas semakin menurun tentu saja. Sedangkan tekat adalah motor penggerak langkah pertama untuk berjalan seribu bahkan sejuta langkah.
      Menjelang senja 2010 ini, saya mendapatkan diri masih meyakini bahwa saya sedang memproses apa yang saya inginkan. Saya sadar sepenuhnya waktu menuai masih membutuhkan penantian beberapa tahun lagi. Saya belum gigih memperjuangkan apa yang saya inginkan, hal ini barangkali disebabkan saya masih berputar dalam labirin masa transisi dari seorang upahan menjadi seorang tuan atas diri sendiri. Seperti sudah sering saya ceritakan, selama lebih dari 25 tahun saya bekerja dalam suatu sistem yang terstruktur, memperoleh penghasilan tetap dan mengeluh terus-menerus. Dua tahun terakhir saya seperti binatang kurungan yang dilepaskan kembali ke habitatnya, dan saya tidak punya alasan sedikit pun untuk mengeluh. Namun, seperti binatang kelamaan dalam kurungan, saya masih belajar beradaptasi dengan alam bebas.
Segalanya terasa demikian mudah begitu saya mempercayakan diri pada kekuasaan kosmis, bebas dari rasa khawatir. Saya belum sepenuhnya bergairah, maklum selama menjadi karyawan, rasanya saya hanya perlu merasa bergairah setiap kali melamar pekerjaan baru saja (sejak 1982 hingga 2008 tujuh kali pindah perusahaan dan lebih dari 10 kali pindah pekerjaan atau relokasi). Maka, hingga saat ini saya masih bertindak sebagai konsultan untuk diri sendiri. Untunglah, keyakinan dan mempercayakan segalanya pada kekuasaan kosmis sering menimbulkan percikan-percikan inovasi. Yang terakhir, tekat, rasanya saya terlatih atau barangkali terlahir dengan tekat yang kuat.
      Membaca ulang apa yang baru saja saya tulis di atas, tiba-tiba saya menyadari bahwa absennya kata kegagalan bukanlah suatu refleksi yang baik. Saya, seperti pada umumnya manusia di atas permukaan Bumi ini takut menghadapi kegagalan, padahal dari kegagalanlah kita dapat memetik buah-buah hikmah yang lezat bergizi. Apakah target yang saya tetapkan terlalu rendah? Namun, kegagalan baru bisa memberikan kita manfaat jikalau kita benar-benar meyakini kemampuan-kemampuan—percaya diri. Bagaimana pun kita hanyalah manusia, bukan robot. Kegagalan atau pun keberhasilan hanyalah persepsi atau tolak-ukur yang relatif seperti dongeng berikut ini.
         Alkisah, ada seorang lelaki yang sedang patah semangat. Berhari-hari ia hanya tidur saja dalam gubuk reyotnya. Pada malam ketujuh, tiba-tiba suatu cahaya terang-benderang memenuhi gubuk dan dari dalam cahaya itu dia mendengar suatu suara yang keras menggelegar, “Hai, manusia lemah, bangkitlah sekarang juga! Aku ingin kau melakukan suatu pekerjaan yang berguna bagi dirimu sendiri!”
        Lelaki itu bangun dengan kaget dan takjub. Selanjutnya suara dan cahaya benderang itu menuntunnya ke halaman di mana ia mendapati sebuah batu besar.
    “Nah, doronglah batu ini sekuat mungkin dengan kedua tanganmu. Setelah setahun melakukannya, kau akan menerima imbalan yang besar!” Setelah berpesan demikian, maka suara dan cahaya tersebut pun lenyap secara gaib.
         Merasa mendapatkan semacam wahyu, maka lelaki itu pun mendorong batu besar itu dengan tekun, sekuat tenaga yang bisa dikerahkannya. Namun, batu itu terlalu berat, sekuat-kuatnya ia mendorong, tidak tergeser seinci pun. Tetapi teringat akan imbalan besar yang akan didapatkannya, dan lagi pula tidak ada hal lain yang dapat dilakukannya, maka lelaki itu mendorong dan mendorong terus. Setelah melakukannya selama tiga hari berturut-turut tanpa hasil, lelaki itu merasa bodoh dan dia mogok. Dengan kesal dia balik ke dalam pondoknya dan merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Tapi baru saja ia ingin memejamkan mata, di depan pondoknya muncul seorang ibu tua.
       “Ada seorang dermawan memintaku kesini untuk merawatmu. Aku akan menyiapkan makan malammu, mencuci pakaianmu dan membersihkan pondokmu.” Kata perempuan tua itu sebelum sempat ditanya. Lelaki itu merasa senang, ia yakin orang yang mengirim perempuan tua itu pasti orang yang sama, yang menampakkan diri berupa cahaya dan suara, maka keesokan paginya ia kembali mendorong batu besar itu. Demikianlah, hari berlalu, lelaki itu mendorong batu besar bergeming itu setiap hari, dari matahari terbit hingga terbenam, sedangkan perempuan tua itu setiap hari datang membawakan makanan dan minuman serta membersihkan tempat tinggalnya. Tak terasa setahun pun terlewati. Lelaki muda itu pun berseru-seru keempat penjuru angin, menuntut imbalannya.
Setelah seharian ia berseru-seru, malam itu pondok reotnya kembali disinari cahaya dan bersamaan itu suara itu berkata kepadanya,”Hai, anak manusia, imbalan apa yang kau inginkan? Bukankah kau telah mendapatkannya?”
“O, apa pun kau ini, kau pasti suka bercanda!” Seru lelaki itu dengan kesal, “Kau menyuruhku melakukan pekerjaan yang bodoh. Kau pasti tahu kan aku pasti gagal? Ya, kau boleh bergirang hati sebab batu itu tak tergeser seinci pun selama tiga ratus enam puluh lima hari aku mendorongnya. Aku memang telah gagal, tapi aku tetap menuntut imbalan yang kau janjikan!”
“Ha ha ha…!” Gelak tawa panjang terdengar dari dalam cahaya. “Angkat dan ulurkan kedua tanganmu, bukankah sepasang tanganmu sekarang berotot dan sangat kekar?”
Lelaki itu mengamati sepasang tangannya sendiri. Ternyata benar. Tidak seperti setahun yang lalu, kini sepasang tangannya kekar berotot. Lalu ia mendengar suara dalam cahaya itu,”Jadi kau memang telah memperoleh imbalanmu, tanganmu menjadi kuat dan kau dapat melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga kuat, daya tahan juga kesabaran. Meskipun batu itu tidak bergeser seinci pun, kau tidak gagal. Lagi pula aku tidak pernah memintamu menggeser batu itu, aku hanya memintamu mendorongnya.”
Lelaki itu kini merasa gembira. Ya, setahun lewat tidak sia-sia, ia telah berlatih ketekunan, kesabaran dan sepasang tangannya menjadi kuat.
         Menuntut diri sendiri untuk mencapai sukses, membuat segala hal jadi mungkin dicapai boleh-boleh saja. Tetapi, jika Anda melakukannya karena tidak ingin dikalahkan orang lain, maka ambisi demikian dapat saja menimbulkan stres berkepanjangan. Alangkah baiknya jika Anda memiliki impian. Lebih baik lagi jika Anda bertindak, mewujudkan impian itu dengan penuh keyakinan Anda akan berhasil. Semakin baik lagi bila keyakinan Anda disertai kegigihan, gairah, inovasi dan tekat bulat. Jika Anda merasa telah melakukan semuanya sepanjang tahun 2010, namun hasil yang dicapai tidak sesuai harapan, barangkali Anda perlu hening sejenak dan bertanya pada diri sendiri, tidak adakah yang aku peroleh? Tidak ada sama-sekali? Seperti lelaki dalam ilustrasi di atas, tidakkah Anda telah berlatih kesabaran, mempertahankan ketekunan dan melatih tangan Anda menjadi sepasang tangan yang kuat? Ya, bagi saya pribadi, saya memperoleh semua itu selama tahun 2010.
           Bagaimana pun, janganlah kita marah pada masa lalu bila hati kita tidak puas. Masa lalu hanya bermanfaat jika kita mau mengambil pelajaran, kita akan menjadi lebih bijaksana, lebih siap menghadapi masa depan. Ketika meneruskan perjalanan, tidak perlu sering-sering menoleh ke belakang, namun seperti halnya berkendaraan mobil, kita perlu melihat ke kaca-spion pada saat ingin melakukan perubahan arah, menyeberang dan menempuh jalur berbeda. Selebihnya, kita berkonsentrasi pada tujuan di depan dan juga situasi kondisi saat ini.
Diri saya pun harus merenungkan pengalaman tahun 2010 sehingga dapat memetik hikmahnya. Tahun 2009 merupakan tahun yang sangat menarik di mana merupakan tahun pertama saya menjadi “orang bebas”. Bukan bebas dari penjara, melainkan bebas masuk ke kantor. Penghasilan sepanjang tahun 2009 memang belum sebanding remunerasi saya tahun-tahun sebelumnya, namun saya merasa sangat bersemangat, dan menikmati kebebasan. Tahun 2009 pun berjalan dengan mulus dan menjanjikan tahun 2010 yang penuh harapan akan jauh lebih baik lagi. Januari 2010 semuanya berjalan sesuai dengan harapan, namun Maret dan April terjadi set-back. Saya sempat merasa khawatir dan lupa mempraktekkan beberapa hal yang sering saya ajarkan kepada orang lain. Saya sempat lupa, bahwa mulai diri saya sendiri hingga Yesus Kristus pernah mengatakan,”Janganlah khawatir, sebab kekhawatiran tidak akan menambahkan apa-apa—sehasta pun tak akan ditambahkan.” Syukurlah, mempraktekkan berpikir positif bertahun-tahun seperti yang diajarkan para guru NLP dan pengalaman hidup bekerja bagaikan pengungkit, ketika ujung yang satu tertekan, ujung lain terangkat. Saya tersadar untuk segera bertindak, yakni melakukan sesuatu yang beda. (pribahasa NLP, “Jika apa yang anda lakukan tidak mendatangkan hasil yang diharapkan, maka lakukan dengan cara yang lain.”). Selain itu saya segera mengirimkan harapan-harapan ke dalam Alam Semesta.
Efeknya segera terasa, seperti yang selalu saya yakini, jika ingin menerima energi positif dari Alam Semesta, maka pertama-tama kita harus mengirimkannya, maka Alam Semesta akan mengembalikan berlipat-ganda melalui suatu sistem resonansi. Dalam situasi yang kurang menguntungkan, memang tidak banyak yang dapat kita perbuat selain memikirkan aspek-aspek positifnya dan berkonsentrasi pada peluang-peluang yang ada—sekecil apa pun. Tindakan ini segera dapat membuka pintu-pintu inovasi dan semangat juang. Meskipun pada akhirnya saya tidak melaksanakan gagasan-gagasan yang saya buat, saya merasa jauh lebih baik. Perasaan lebih baik ini pada gilirannya membantu saya melakukan pekerjaan saya dengan baik. Sungguh pengalaman yang memperkaya diri saya, dan saya berharap Anda pun mendapatkan inspirasi.
Dan, kini, saya siap meninggalkan tahun 2010 dengan perasaan nyaman. Saya tidak akan mengatakan ini merupakan tahun yang baik atau tahun yang sedang-sedang saja atau tahun yang buruk. Sebab jika saya mengatakan ini tahun yang baik dengan parameter apa saya mengukurnya? Jika saya mengatakan sedang-sedang saja, saya tidak akan belajar apa-apa. Dan, alangkah tak tahu bersyukurnya saya mengatakan ini tahun yang buruk. Paling tepat saya mengatakan bahwa tahun 2010 merupakan tahun istimewa seperti tahun-tahun yang lewat dan yang akan datang. Selamat tinggal tahun 2010, terima kasih atas segala keistimewaan yang engkau berikan dan cara engkau menyiapkan aku menyambut tahun 2011. 

Comments