Kisah Inspirasi di Balik Bank of America

Amadeo Peter Giannini Banker Krah Biru dari Amerika

A.P. Gianini Pendiri
Bank of America
Kredit Pemilikan rumah, kredit pemilikan kendaraan, berbagai bentuk kredit lain hanyalah sebagian dari berbagai jenis transaksi perbankan yang terjadi hampir setiap hari, tetapi tahukah Anda, bahwa sebelum Amadeo Peter Giannini—panggilan akrab AP—putra seorang imigran dari Italy merevolusi dunia perbankan yang memihak bung kecil di Amerika, kegiatan perbankan seperti itu tidak ada. Ketika Giannini meninggal dunia pada tahun 1949, bank yang didirikan dan dibesarkannya secara revolusional, The Bank of Amerika telah menjadi bank terbesar di dunia dengan total aset sebesar $ 7 miliar dan 525 cabang tersebar di 300 kota di Amerika. Giannini dicatat oleh majalah Time sebagai Builders and Titans of the 20th century”, satu-satunya banker yang masuk dalam list 100 orang berpengaruh di abab ke-20. 
Masa Muda
Giannini lahir pada tahun 1870 di San Jose, California. Ayahnya, Luigi adalah imigran asal Genoa, Italia. Di tempat asalnya, Ligure sebuah desa kecil yang saat sekarang hanya dihuni sekitar 500 orang itu, Luigi bercocok tanam. Ibunya, Virginia Demartini menikah dengan Luigi ketika baru berumur 14 tahun dan Luigi 29 tahun. Tak lama setelah pernikahan itu, mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan desa mereka untuk pergi ke Amerika dan berharap dapat memperbaiki nasib di tanah baru. Dengan uang sumbangan yang dikumpulkan dari sanak-keluarga, Luigi menyewa sebuah rumah yang memiliki beberapa kamar. Setalah renovasi selama 6 bulan, rumah tersebut telah menjadi sebuah motel 20 kamar. Di motel itulah Giannini muda dilahirkan.
            Motel keluarga itu cukup maju sehingga akhirnya berkembang menjadi sebuah hotel. Beberapa tahun kemudian Luigi menjual hotel itu dan membeli tanah seluas 40 acre (sekitar 162.000 m2). Agaknya keluarga itu telah berhasil mewujudkan mimpi-mimpi mereka, dan akan menikmati hidup makmur, hingga suatu peristiwa tak terduga terjadi. Luigi terlibat pertengkaran dengan seorang karyawan yang berutang 1 dolar kepadanya. Pertengkaran itu berakhir dengan terbunuhnya Luigi di depan Giannini yang baru berusia 7 tahun.
            Virginia yang mendadak janda pada usia 22 tahun itu menikah kembali dengan Lorenzo Scatena, seorang petani juga pemilik usaha perdagangan produk pertanian. Virginia berhasil meyakinkan suami barunya bahwa perdagangan produk pertanian lebih menguntungkan daripada bertani, maka pada tahun 1882 keluarga itu pindah ke San Francisco supaya dekat dengan pelabuhan. Pada saat Giannini berumur 14 tahun, ia meninggalkan bangku sekolah dan bekerja penuh waktu di perusahaan milik ayah tirinya.
            Selama 5 tahun, Giannini mendedikasikan dirinya sebagai humas, menulis surat kepada calon pelanggan dan pemasok dan menindaklanjuti secara pribadi. Ketika Giannini mencapai usia 19 tahun, ayah tirinya menjadikannya rekanan sebagai penghargaan atas kerja kerasnya, dan dengan demikian ia memiliki separuh dari saham Lorenzo Scatena & Co. Lalu pada saat ia mencapai usia 31 tahun ia memutuskan untuk keluar dari bisnis produk pertanian. Dia menyatakan bahwa ia akan “pensiun”, tetapi hanya sedikit yang percaya ia akan hal itu. Terbukti kemudian ia justru memulai karir yang sesungguhnya.
Masuk ke Bisnis Perbankan
Bank of America jadul
Setelah keluar dari bisnis produk pertanian yang membuatnya cukup kaya, Giannini berharap ia dapat bebas melakukan hal-hal yang disukainya—membaca dan melakukan perjalanan misalnya. Tetapi, nasib punya rancangan lain. Penawaran segera berdatangan dari mana-mana untuk mengajaknya bergabung dengan perusahaan masing-masing, namun hanya ada satu yang cukup menggugah perhatiannya; The Columbus Saving & Loan Association mengajak Giannini bergabung dalam jajaran direksinya.
            The Columbus S&L adalah sebuah bank yang sederhana berkantor pusat di daerah pemukiman Italia di North Beach. Giannini menerima tawaran mereka dengan harapan dapat memegang jabatan yang pertise sekaligus dapat membantu kelompok masyarakat kurang mampu. Selama 2 tahun ia mendedikasikan dirinya pada bank dan segala sesuatunya pada mulanya berjalan lancar, namun tidak bertahan lama. Ia segera menghadapi berbagai kesulitan dengan asosiasi dan direktur-direktur lain.
Giannini ingin membantu para imigran yang pekerja keras seperti orang tuanya tetapi         The Columbus S&L hanya tertarik meminjamkan uang kepada para pengusaha yang sudah kaya, tidak kepada para imigran pekerja keras yang tak punya uang itu. Dengan kata lain, seseorang hanya akan mendapatkan pinjaman jika ia sudah punya uang! Hal demikian tidak masuk akal untuk Giannini. Usahanya membela kaum ekonomi lemah untuk mendapatkan pinjaman dicuekin. Akhirnya, pada tahun 1904, Giannini berhasil mengumpulkan $150,000 dari ayah tirinya dan beberapa teman lain sebagai modal untuk membuka bank sendiri, Bank of Italy.
            Mula-mula Bank of Italy berkantor di gedung yang tadinya adalah sebuah salon, persis di seberang jalan The Columbus S&L; bahkan bartender dari salon tersebut dipekerjakan sebagai pembantu kasir bank. Giannini menawarkan bisnis dari pintu ke pintu yang pada masa itu dapat dianggap tidak profesional dan tidak etis berbisnis, tetapi ia tidak pusing-pusing dengan anggapan itu sepanjang Bank of Italy mengijinkannya mewujudkan cita-citanya membantu masyarakat kelas pekerja. Dan hanya dalam waktu satu tahun, tabungan para bung kecil di banknya melewati $700,000. Menjelang tahun 1906, jumlah tabungan yang masuk bahkan telah melampaui 1 juta dolar.
            Giannini telah sampai di puncak kejayaannya , ketika pada 18 April 1905 gempa bumi terbesar dalam sejarah melululantakkan San Francisco.  Hebatnya Giannini hanya membutuhkan waktu 6 hari saja untuk membuka kembali banknya, sementara bank lain membutuhkan waktu sebulan! Walaupun di dalam tenda yang didirikan darurat, Bank of Italy dapat melayani orang-orang yang membutuhkan pinjaman—dan dalam kondisi seperti itu uang semakin dibutuhkan—apa yang dilakukannya sudah merupakan prestasi luar biasa.
            Dalam waktu 10 tahun berikutnya, Giannini telah mendirikan beberapa cabang Bank of Italy di San Francisco. Tahun 1928, ia mendekati Bank of America untuk menjajaki kemungkinan penggabungan. Ketika merger itu terjadi, Giannini tetap memegang posisi sebagai Chairman dan ia setuju mempertahankan nama Bank of America karena itu merupakan simbol dari misi yang lebih besar institusi hasil penggabungan tersebut.
            Di bawah kepemimpinan Giannini, Bank of Amerika menjadi bank satu-satunya di satu kota (kebanyakan kota besar Amerika pada masa itu). Ia lalu mendirikan TransAmerica holding company yang menangani kepentingan-kepentingan yang lebih luas, termasuk di dalamnya beberapa bank di luar negeri. TransAmerica juga bertindak sebagai pemegang saham mayoritas dari Bank of America hingga kongres Amerika turun tangan memecah-mecahkan konsentrasi kekuasaan tersebut.
            Boleh dikatakan dalam perjalanannya menuju ke puncak sukses, ia telah menciptakan banyak penentang yang dikarenakan taktik berbisnisnya yang liberal dan juga fokusnya untuk membantu kaum krah biru—kelas pekerja, namun demikian ketika monopolinya bertambah meluas, sulit mencari alasan untuk menyimpulkan bahwa apa yang dilakukannya bertentangan dengan kepentingan publik. Hingga masa kini, disaat diversifikasi pelayan perbankan meluas, maka hal ini dapat dikatakan sebagai warisan yang ditinggalkan Giannini.
Startegi A.P. Giannini
Waktu Giannini bergabung dengan asosiasi Columbus S&L, ia berangan-angan dapat memanfaatkan posisi dan pengaruhnya untuk membujuk asosiasi itu untuk membantu kaum ekonomi lemah seperti buruh tani, pedagang kecil dan para imigran. Tetapi setelah berusaha 2 tahun dan tidak berhasil membujuk para petinggi Columbus S&L, atau mendapatkan simpati sama-sekali, ia pun bergegas mendirikan bank sendiri—Bank of Italy—untuk memenuhi tujuannya.
Strategi #1 Memanfaatkan Potensi Besar Dalam Diri Bung Kecil
Jiwa sosial Giannini terbentuk selama ia bekerja di toko produk pertanian ayah tirinya. Di sana ia bergaul dengan para pelanggan dan pemasok yang tak lain tak bukan adalah para buruh tani, petani dengan penghasilan kecil hingga menengah, pedagang dan imigran yang datang ke Amerika untuk memperbaiki nasib mereka. Ia mengerti kebutuhan mereka, dan kerasnya kehidupan yang harus mereka geluti.
            Selama bergabung dengan Columbus S&L ia harus menyaksikan orang-orang yang sangat membutuhkan pinjaman ditolak hanya karena jumlah pinjaman maupun jumlah transaksi mereka kurang dari limit $200 (jumlah yang sangat besar pada permulaan abab ke-20 itu) yang ditetapkan asosiasi tersebut. Para peminjam yang tersudut akhirnya terpaksa harus berhadapan dengan para lintah darat.
            Giannini juga digerakkan oleh keyakinannya bahwa para imigran dan anak-anak mereka—seperti halnya dirinya—adalah tulang punggung untuk pembangunan ekonomi California. Jika ekonomi mereka kuat dan berkembang maka ekonomi negara bagian itu pun akan kuat dan berkembang. Suatu kenyataan yang mungkin pada waktu itu tak banyak dilihat oleh orang lain.
            Mikro strategi yang digunakan Giannini menjalankan Bank of Italy merupan hal yang belum pernah dikenal dunia bisnis pada waktu itu. Ia memberikan kredit mulai dengan jumlah $25 dan tanpa jaminan. Banyak di antara transaksi terjadi hanya dengan jabat tangan. Giannini membuat keputusan berdasarkan nalurinya, dari perasaan yang timbul ketika ia berjabat tangan dengan calon peminjam serta dengan menatap ke dalam mata mereka. Kelihatannya, Giannini memang mengambil resiko berbisnis dengan cara seperti ini, namun ia tak ragu-ragu mempertaruhkan uangnya dengan memberikan kepercayaan kepada para nasabah. Ia pun tak pernah menolak siapapun yang datang kepadanya untuk meminjam uang. Pengalaman masa kecilnya ketika menyaksikan ayahnya dibunuh di depan matanya sendiri mungkin memengaruhi keyakinannya bahwa hidup ini terlalu singkat bila hanya disibukkan dengan memikirkan resiko kehilangan uang tanpa mampu memanfaatkan kesempatan untuk membantu orang yang sedang membutuhkan bantuannya.
            Agar dapat melayani para imigran yang sebelumnya mendapat kesulitan karena keterbatasan mereka berbahasa Inggris, diatasi dengan menyediakan pegawai yang berbahasa Itali, Rusia, Serbia, China, Yunani, Meksiko dan bahasa-bahasa lain yang dirasa perlu.
            Ia mendorong para imigran untuk mengirimkan uang ke negara asal dengan hanya mengenakan biaya 2 persen sedangkan pada umumnya bank reguler akan mengenakan 8 persen.
            Bukti ketepatan strategi Giannini ditunjukkan dengan tingginya antusiasme masyarakat ekonomi golongan lemah itu. Hanya pada hari pertama Bank of Italy memulai bisnis, telah berhasil mengumpulkan tabungan $9,000.
            Reputasi dan policy Giannini dengan cepat tersebar dari mulut ke mulut, dan pelanggan berloyalitas pun bertambah banyak. Kepercayaan yang diberikannya tanpa syarat juga tidak pernah dikhianati dan karena itu Bank of Italy tidak pernah menghadapi masalah kredit macet.
Strategi #2: Hubungan Berlandaskan Kemanusiaan
Kepercayaan dan kemudahan-kemudahan yang diberikan Giannini kepada nasabah yang ingin meminjam uang darinya menjadi legenda yang menarik semakin banyak nasabah ke banknya. Meskipun ia tak pernah menganggap apa yang dilakukannya sebagai resiko, ia sebenarnya memberikan kepercayaan karena ia yakin mengenal semua nasabahnya dengan baik. Tidak saja ia tahu nama mereka, ia juga tahu tempat tinggal mereka, bisnis mereka, situasi keuangan mereka dan keluarga mereka. Pada dasarnya ia menganggap mereka sebagai keluarga. Karena ia menghargai  nasabahnya sedemikian tinggi, maka mereka pun menghargai kepercayaannya.
            Itulah sebabnya ketika San Francisco dilanda gempa bumi dahsyat pada 18 April 1906, Bank of Italy hampir tidak mengalami kerugian sama sekali. Karena itu merupakan bank bersama yang dibesarkan secara kekeluargaan, penjarah yang berkeliaran setelah gempa menjadikan kota itu seperti kota hantu tidak mengganggu Giannini dan karyawannya yang memindahkan emas, uang dan harta kekayaan dari puing-puing kantor bank ke rumah Giannini yang juga rusak parah.
            Jika bank lain kehilangan semua data nasabahnya dan perlu waktu berbulan-bulan untuk menormalkan keadaan, Giannini mengingat setiap pinjaman nasabahnya di luar kepala. Hanya dalam waktu 6 hari ia berhasil membuka kembali banknya, ia berhasil menemukan papan nama bank yang tersisa, menggantungkan pada sisa-sisa bangunan kantor. Di sebelahnya ia menggantungkan papan pengumuman bertuliskan: Melayani pinjaman seperti biasa, bahkan lebih banyak daripada biasanya. Dalam waktu kurang dari 24 jam, Bank of Italy kembali berbisnis.
            Semua itu dimungkinkan koneksi Giannini dengan para nasabahnya. Setelah peristiwa itu, bank-bank lain tidak mampu bangkit kembali dan nasabah bank-bank tersebut berbondong-bondong  menarik uang mereka untuk dipindahkan ke bank Giannini. Sebab hanya dialah banker yang dapat dipercaya dan diandalkan.
            Giannini sungguh-sungguh menyakini bahwa bank seharusnya berperan aktif dalam suatu komunitas. Manager-manager seharusnya mengenal nasabah-nasabah mereka seperti keluarga sendiri;  tempat mereka berada di luar kantor pribadi dan menjadi bagian dari denyut kehidupan komunitas. Dia menolak ide bahwa banker harus selalu mengenakan pakaian mahal dan menempatan kantor yang mewah. Tidak! jika seorang banker ingin sukses, Giannini percaya sukses dicapai oleh banker yang mengenal kustomernya luar dalam.
Strategi #3: Uang Memang Berharga Tetapi Tidak Terlalu Bernilai
Saya sering mendapat pertanyaan—terkadang dengan nada sinis—“apa maksud saya menulis buku Cara Pasti Menjadi Kaya Raya, apakah saya sudah kaya raya sehingga berani menulis buku dengan judul sepercaya diri seperti itu? Ya, apa artinya kaya raya? Karena kaya raya dalam pengertian saya dan kaya raya dalam pengertian Anda pasti berbeda. Demikian pula halnya pelajaran yang dapat kita petik dari Giannini. Walaupun ia memiliki kesempatan untuk memperkaya dirinya, bahkan dapat saja ia menjadi salah satu dari orang terkaya di dunia, ia tak ingin berkelimpahan kekayaan. Dia dikutip mengatakan,”aku tak pernah ingin menjadi kaya raya, sebab tak ada seorang kaya pun yang dapat mengendalikan kekayaannya, sebaliknya ia akan menjadi budak dari kekayaan kalau ia terlalu getol menginginkannya.” Meskipun begitu, meninggal dunia pada usia 79 tahun, kekayaannya bernilai $500,000, suatu jumlah yang besar untuk masa itu.
            Ketika pertama kali membuka Bank of Italy dan merekrut personel yang tepat, artinya yang dapat sejalan dengan visinya sendiri, Giannini segera teringat akan seorang kasir bernama Pedrini. Meskipun Pedrini itu adalah karyawan Columbus S&L tidak menghentikan maksudnya, ia menawarkan kepada Pedrini gaji 2 kali lipat dari yang diterimanya dari Columbus S&L waktu itu. Tentu saja rekanannya di Bank of Italy protes, mereka tidak peduli Pedrini merupakan seorang karyawan yang baik, sopan santun, pandai membawa diri, mereka tetap merasa tidak ada perlunya mengeluarkan uang sebegitu banyak untuk melakukan pekerjaan yang dapat dilakukan karyawan dengan gaji jauh lebih sedikit. Untuk menghentikan komplain rekanannya, Giannini merelakan separuh dari gajinya sendiri untuk membayar gaji Pedrini. Walaupun di kemudian hari perkara ini selesai dengan sendirinya karena Pedrini berhasil membuktikan bahwa ia seorang banker yang pantas dibayar mahal, tak dapat tidak menunjukkan sikap Giannini terhadap kekayaan pribadi.
            Giannini juga bukan orang yang gila kekuasaan, karena itu ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai Direktur Utama dan memilih menjadi Wakil Direktur. Setehun kemudian ia bahkan merelakan jabatan wakil direktur kepada ayah tirinya, Lorenzo Scatena yang juga merupakan pemegang saham utama. Tentu saja Giannini tetap ikut mengurus Bank of Italy, namun ia tidak lagi mau menerima gaji tetap. Suatu waktu ia diberikan bonus sebesar $1,5 juta, tanpa ragu ia menyumbangkannya untuk dana riset tehnologi pertanian di University of California.
            Menjelang 1922, Bank of Italy sudah memiliki 60 cabang, berkembang pesat, dan kesuksesan yang tak dapat dinyana. Sebenarnya kesempatan bagi Giannini untuk memperkaya diri sangat besar, tetapi ia tetap pada prinsip hidupnya, menolak kenaikan gaji tahunannya sebesar $50,000 dan secara blak-blakan mengatakan jika seseorang menginginkan kekayaan lebih dari setengah juta dolar, ia memerlukan berkonsultasi dengan dokter jiwa.
            Giannini bukan seorang pebisnis sembarangan, sudah pasti ia menginginkan keuntungan besar untuk bisnisnya, hanya saja dia tidak merasa perlu mengisi kantong uangnya sendiri. Dengan memelihara sikap seperti itulah ia membangun reputasi dan banknya yang dipercaya oleh orang-orang.  
Strategi 4#   Jangan Membiarkan Orang Lain Menahan Ambisimu
Pada waktu Giannini tampil di depan layar, praktek bisnis perbankan sangat berbeda dengan yang kita kenal hari ini. Kebanyakan bank hanya memiliki satu entitas, dan modal terbatas sehingga hanya sanggup memberikan kredit yang terbatas pula. Giannini berusaha mengubah praktek demikian dengan membangun jaringan yang besar di California. Giannini memiliki visi bank menjadi jaringan yang beroperasi  di seluruh negara bagian Amerika Serikat dan bahkan antar negara di dunia. Ia percaya dengan jaringan kerja sama yang kuat antar negara bagian, antar negara-negara di dunia, maka akan tergalang kekuatan untuk mengatasi krisis. Ia memang tak sempat menyaksikan pertumbuhan bank-bank nasional dan internasional dalam hidupnya, tetapi apa yang kita saksikan dan alami hari ini merupakan apa yang dipeloporinya.   
Apa yang mendorongnya untuk percaya demikian adalah kepanikan pada tahun 1907. Giannini merupakan salah satu dari sedikit banker yang berhasil melalui rush kali itu karena memiliki cadangan emas dan uang tunai yang besar untuk memenuhi permintaan para deposan yang menarik dana mereka secara besar-besaran. Dia tersadar bahwa hanya bank yang kuat, dengan aset dalam jumlah besar yang mampu melindungi diri mereka dan nasabah mereka jika di masa depan akan terjadi kepanikan lagi. 
            Kesadaran baru itu mendorong Giannini segera bertindak, ia mengunjungi Canada di mana perbankan telah berhasil mengembangkan sistem cabang yang efektif, ia ingin belajar. Ketika kembali ke California, tanpa banyak bicara ia melakukan ekspandi ke negara bagian lain dan juga melakukan ekspandi ke bidang industri asuransi. Namun, pesaing-pesaingnya tidak senang dengan tindakannya, mereka berpendapatan ekspansi dengan membuka banyak cabang seperti itu justru akan mencelakakan para nasabah. Mereka bahkan mengolok-oloknya sebagai “Pedagang buah dari Sisilia” untuk menjatuhkan kredibilitasnya sebagai banker. Usaha orang-orang itu agaknya sia-sia, semakin keras mereka mengkritik dan mencoba menjatuhkannya, Bank of Amarika berhasil tumbuh menjadi bank terbesar. Isu rasial tidak berhasil menghentikan Giannini yang penuh persiapan. Hanya dewan legislatif federal yang berhasil menahan ambisinya—untuk sementara waktu saja. 
Strategi #5: Perluas Pengaruh Di Bidang Lain
Bank of America,
San Francisco
Sebagaimana Giannini telah menunjukkan keberaniaannya mengambil resiko ketika meminjamkan uang kepada “bung kecil” tanpa jaminan, dan ternyata resiko yang dikhawatirkan banyak orang lain itu tidak terjadi, bahkan sebaliknya Bank of Italy berkembang pesat, maka ia pun tanpa ragu-ragu memperluas pengaruhnya dengan memberikan pinjaman berbunga rendah untuk mendukung perkembangan industry local California, salah satunya adalah industry perfiliman.
            Pada tahun 1920-an Giannini melihat adanya potensi bagi California untuk mengembangkan industry perfiliman seperti halnya New York yang telah lebih dahulu menikmati sukses di industri tersebut. Ketika ia mendapatkan skrip yang menurutnya bagus, tanpa ragu-ragu ia memberikan pinjaman dengan bunga hanya 6 persen, sedangkan perbankan di New York pada waktu yang sama mengenakan bunga 20 persen. Film pertama yang didanainya adalah Charlie Chaplin’s “Il Monello.” Film tersebut mengalami kesuksesan dan hanya dalam minggu pertama uang Giannini kembali.
            Setelah Chaplin, Giannini memberikan pinjaman $2 juta untuk membantu Walt Disney memproduksi film pertamanya, Snow White and the Seven Dwarves. Sekali lagi investasi ini mmberikan keuntungan melebihi ekspektasi. Selanjutnya ia juga membiayai film-film Frank Capra, di antaranya Once Upon a Night, Happiness is Coming. Antara tahun 1932 hingga 1952, Bank of America telah membiayai lebih dari 500 film dengan total investasi setengah juta dolar Amerika.
            Di bawah kepemimpinan Giannini pula, Bank of America juga memberikan pinjaman kepada Di tengah depresi besar, Giannini mendengar tentang Joseph Strauss, seorang arsitek muda yang  telah merancang sebatang jembatan yang terbentang di atas teluk San Francisco. Strauss tidak berhasil mendapatkan investor untuk membiayai projet tersebut. Setelah ia mengetahui bahwa jika jembatan itu akan membantu masyarakat kota San Francisco keluar dari krisis ekonomi, Giannini setuju meminjamkan $6 juta kepada Strauss. Ketika jembatan suspense terbesar yang dinamakan Golden Gate itu selesai dibangun pada tahun 1937 dan berhasil mengembalikan citra kota San Francisco.
            Dalam masa PD II, Giannini juga memberikan bantuan yang tidak sedikit untuk negeri leluhurnya, Italia dan juga tentara Amerika keturunan Italia. Dari waktu ke waktu, Giannini memberikan bantuan untuk pengembangan projek-projek yang diyakininya bermanfaat kepada masyarakat luas dan dengan berbuat demikian pula ia memperluas pengaruhnya.
Kata Bijak A.P. Giannini
Memenuhi kebutuhan orang banyak merupakan satu-satunya legitimasi bisnis sekarang ini. Serakah akan uang adalah sikap yang buruk, saya tak pernah serakah dan karena itu saya tidak pernah diganggu masalah ini. Saya tidak ingin menjadi terlalu kaya karena bukan orang kaya yang mengendalikan kekayaan, tetapi sebaliknya.  

Comments

  1. benar-benar menginspirasi saya..
    terima kasih artikelnya :)

    salam super

    ReplyDelete
  2. Terima kasih komentarnya. Semoga sukses dengan jasa pembuatan websitenya...

    ReplyDelete

Post a Comment